Tips Merintis Usaha: 5 Pelajaran Praktis dari Bos BRI & CT

Tips Merintis Usaha: 5 Pelajaran Praktis dari Bos BRI & CT

Tips Merintis Usaha: dari "tanpa uang" sampai paham teknologi

Primary keyword: tips merintis usaha

TL;DR

  • Mulai dari industri dengan entry barrier rendah agar belajar cepat tanpa “terbakar” biaya besar.
  • Kenali perilaku pasar: siapa pembeli, siapa pemain besar, dan kenapa mereka unggul.
  • Pisahkan uang pribadi dan uang usaha—pencatatan rapi itu fondasi.
  • Di 6 bulan awal, fokus utama bukan laba, tapi cashflow supaya napas usaha panjang.
  • Bangun “modal” non-uang: kemauan, kemampuan, dan networking; lalu manfaatkan teknologi untuk jualan.

Kenapa artikel ini relevan sekarang

Di Jogja Financial Festival 2026, beberapa pembicara—termasuk Direktur Utama BRI Hery Gunardi dan Chairul Tanjung (CT)—menekankan hal yang sering luput ketika orang mencari “cara cepat” bisnis: pondasi.

Ada yang fokus cari modal uang dulu, padahal CT menekankan bahwa uang bukan selalu modal utama di awal. Di sisi lain, Hery menekankan hal yang terdengar sederhana tapi sering jadi penyebab UMKM gagal: pencatatan, pemisahan keuangan, dan disiplin arus kas.

Dari rangkaian pesan itu, kita bisa rangkum menjadi panduan praktis untuk tips merintis usaha yang realistis, terutama buat perintis yang masih bekerja, mahasiswa, atau baru ingin mulai dari kecil.

5 Tips Usaha Buat Perintis (versi praktis)

Berikut lima poin yang disampaikan Hery Gunardi, lalu saya turunkan menjadi tindakan yang bisa langsung dicoba.

1) Mulai dari industri dengan entry barrier rendah

Maksudnya: pilih jenis usaha yang “mudah masuk”, tidak butuh peralatan mahal, izin rumit, atau keahlian sangat spesifik sejak hari pertama.

Praktiknya:

  • Pilih produk/jasa yang bisa diuji cepat: pre-order, jasa berbasis skill, atau reseller.
  • Hindari komitmen biaya tetap besar di awal (sewa, stok besar) sebelum ada permintaan nyata.

2) Pahami perilaku pasar (pemain, pembeli, pesaing)

Hery menekankan: pahami lanskap—siapa pemainnya, siapa pegang pangsa pasar besar, dan kenapa mereka bisa besar.

Praktiknya:

  • Buat daftar 5 kompetitor teratas (lokal/online) lalu catat: harga, cara promosi, dan value yang ditonjolkan.
  • Tanya calon pelanggan: “kalau beli X, yang paling penting apa? harga, cepat, kualitas, atau layanan?”

3) Kelola manajemen bisnis & keuangan sejak awal

Poin pentingnya: banyak usaha kecil gagal karena pencatatan lemah dan uang usaha bercampur dengan uang pribadi.

Praktiknya:

  • Pisahkan rekening/e-wallet usaha (walau nominal kecil).
  • Biasakan catat pemasukan vs pengeluaran harian. Minimal: tanggal, item, nominal, metode bayar.
  • Tentukan “gaji pemilik” (walau kecil) agar tidak menggerogoti kas usaha.

4) 6 bulan pertama: fokus cashflow, bukan laba

Dalam fase awal merintis, Hery menekankan momen krusial bukan di laba, tapi arus kas. Usaha bisa “habis napas” kalau pembayaran masuk terlambat sementara biaya jalan terus.

Praktiknya:

  • Tetapkan aturan tempo: bayar di muka/DP, atau minimal termin jelas.
  • Hindari utang dagang panjang sebelum ritme penjualan stabil.
  • Hitung kebutuhan kas 4 minggu ke depan (bukan sekadar “bulan ini”).

5) Kembangkan usaha dengan memahami teknologi

Hery mencontohkan pemanfaatan media sosial untuk jualan; CT juga menekankan bahwa sekarang jual barang tidak harus punya toko fisik karena konsumen (milenial, Gen Z, sampai Gen Alpha) sangat bergantung pada e-commerce.

Praktiknya:

  • Pilih 1–2 kanal utama dulu (misalnya TikTok + WhatsApp/Instagram) agar konsisten.
  • Buat katalog sederhana (Google Drive/Notion/Link-in-bio) supaya pembeli cepat paham.
  • Gunakan teknologi untuk menurunkan biaya variabel: template konten, sistem pencatatan, dan otomatisasi pesan.

“Tanpa modal uang”: 3 modal versi CT yang sering diremehkan

CT bercerita ia memulai usaha tanpa modal uang, dan menyebut tiga modal utama: kemauan, kemampuan, dan networking.

Kalau diterjemahkan ke aksi:

  • Kemauan → disiplin eksekusi: bikin target harian/mingguan yang kecil tapi rutin.
  • Kemampuan → pilih satu skill inti yang bisa dijual (desain, editing, admin online shop, masak, tutor, dsb.).
  • Networking → mulai dari lingkaran terdekat untuk validasi: teman kampus/kantor, komunitas, tetangga.

Catatan penting dari CT: networking harus dibarengi kemampuan menjaga amanah. Dalam bisnis kecil, reputasi itu aset.

Mindset entrepreneur: ciptakan peluang + belajar dari gagal

CT menekankan entrepreneur adalah orang yang mampu melihat, menangkap, dan menciptakan peluang. Tapi peluang yang diambil belum tentu berhasil; kegagalan adalah learning process.

Supaya konsep ini tidak jadi motivasi kosong, pakai format refleksi sederhana tiap kali gagal:

  1. Apa hipotesis awal saya (misal: “produk A laku di harga X”)?
  2. Kenyataannya apa (berapa yang tanya, berapa yang beli)?
  3. Kenapa meleset (harga, trust, channel, pesan, waktu, dsb.)?
  4. Percobaan kecil berikutnya apa (ubah 1 variabel saja)?

Ini cara paling aman untuk “belajar dari gagal” tanpa menghabiskan modal.

Checklist langkah demi langkah (mulai 7 hari)

Gunakan checklist ini sebagai cara cepat memulai tips merintis usaha tanpa kebingungan.

Hari 1: Pilih arena yang entry barrier-nya rendah

  • [ ] Tulis 3 ide usaha yang bisa dijalankan tanpa biaya tetap besar
  • [ ] Pilih 1 ide yang paling mudah diuji minggu ini

Hari 2: Peta pasar cepat

  • [ ] Cari 5 kompetitor
  • [ ] Catat: harga, keunggulan, cara promosi
  • [ ] Tulis 1 hal yang bisa kamu tiru (bukan jiplak) dan 1 hal yang bisa kamu bedakan

Hari 3: Siapkan pencatatan & pemisahan uang

  • [ ] Buat rekening/e-wallet khusus usaha
  • [ ] Buat template catatan pemasukan-pengeluaran

Hari 4: Rancang cashflow

  • [ ] Tentukan aturan DP/tempo
  • [ ] Buat proyeksi kas 4 minggu (kas masuk, kas keluar)

Hari 5: Pilih 1 kanal teknologi

  • [ ] Tentukan kanal utama (misal TikTok)
  • [ ] Buat 3 konten sederhana yang menjawab: masalah, solusi, bukti

Hari 6: Uji kecil

  • [ ] Jalankan 1 penawaran (pre-order/slot jasa)
  • [ ] Catat respons dan pertanyaan yang paling sering muncul

Hari 7: Evaluasi ala “learning process”

  • [ ] Tulis apa yang berhasil dan tidak
  • [ ] Putuskan 1 perubahan untuk minggu depan

Kesalahan umum yang bikin perintis cepat tumbang

  1. Mengejar “keren” dulu, lupa entry barrier dan biaya tetap.
  2. Pencatatan berantakan—uang usaha bocor ke kebutuhan harian.
  3. Terlalu fokus laba, padahal cashflow belum stabil.
  4. Malu memanfaatkan teknologi (padahal konsumen sudah ada di e-commerce dan media sosial).

FAQ

Q1: Kalau tidak punya modal uang sama sekali, apa langkah pertama?
A: Mulai dari “modal” non-uang: kemauan (rutinitas), kemampuan (skill yang bisa dijual), dan networking (orang pertama yang bisa jadi pelanggan/penyambung).

Q2: Kenapa cashflow lebih penting daripada laba di awal?
A: Karena usaha bisa berhenti bukan karena “rugi di kertas”, tapi karena uang tunai tidak cukup saat tagihan jatuh tempo sementara pembayaran dari pelanggan terlambat.

Q3: Teknologi apa yang paling penting untuk perintis?
A: Yang paling penting adalah yang membuat jualan dan operasi lebih ringan: kanal promosi (misal media sosial) plus sistem dasar pencatatan/pengelolaan pesanan.

Baca juga

Sumber/Referensi

Related in